Archive for March, 2007

Ogoh-ogoh menjelang Nyepi

Beberapa hari lagi hari raya Nyepi Caka 1929 akan tiba, yaitu pada hari Senin, 19 Maret 2007. Perayaan ini biasanya diawali dengan upacara Melasti yang menjadi salah satu ciri khas datangnya hari raya Nyepi. Sementara ini ciri khas yang paling menonjol adalah dengan ramainya para generasi muda berkumpul di balai Banjar masing-masing atau di tempat strategis lainnya. Sebuah benda “aneh” seukuran raksasa akan terlihat di tempat ini, benda ini biasa disebut Ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh inilah yang mereka buat dan mereka kerjakan untuk merayakan hari raya Nyepi.

Ogoh-ogoh pada umumnya berbentuk raksasa yang menyeramkan, tapi tidak jarang pula ada ogoh-ogoh yang berbentuk lainnya seperti dewa-dewa, binatang, ataupun bentuk aneh lainnya. Pembuatan ogoh-ogoh ini biasanya menghabiskan waktu kurang lebih 1 bulan. Bahan-bahan yang dipergunakan adalah bermacam-macam, ada yang membuat ogoh-ogoh dengan bahan utama dari bambu, yaitu dengan cara membentuknya seperti membuat keranjang. Namun ada cara yang lebih praktis lagi yaitu dengan menggunakan jaring kawat, namun biaya yang dihabiskan lebih banyak. Yang terakhir ada juga yang menggunakan gabus. Gabus dipotong-potong dan dibentuk dengan cara seperti diukir. Setelah bentuknya jadi, biasanya akan ditutup dengan kertas yaitu dengan kertas koran atau kertas pembungkus semen. Lem yang digunakan dibuat dari tepung. Setelah proses ini selesai, tahap selanjutnya adalah dicat sedemikian rupa sehingga warnanya bagus, untuk proses ini menghabiskan waktu kurang lebih 3 hari. Setelah kering, maka dilanjutkan dengan memasang pernak-pernik seperti kalung, gelang, kain (kamen), dan yang paling penting adalah di bagian kepala. Untuk ogoh-ogoh yang berbentuk raksasa, biasanya topeng (tapel) didapat dari membelinya. Biasanya harga tapel mencapai ratusam ribu. Tapel kemudian dipasang dan dilengkapi dengan rambut dan gelung (mahkota). Hal penting lainnya adalah bagian “sanan” atau bambu yang diikat membentuk segi empat untuk tempat ogoh-ogoh sehingga bisa diarak nantinya. Pembuatan ogoh-ogoh biasanya sudah selesai 2 hari menjelang pengerupukan.

Anda jangan kaget, pembuatan ogoh-ogoh ini menghabiskan uang jutaan rupiah, biasanya antara 5 juta s/d 10 juta rupiah, bahkan ada yang lebih dari itu. Mungkin ada yang bertanya, darimana uang sebanyak itu diperoleh? Uang itu sebagian besar didapat dari sumbangan para donatur yang menyumbang secara sukarela. Untuk organisasi pemuda yang biasa disebut Sekaa Teruna (ST), mereka biasanya mempunyai dana kas, dan kas itu juga ikut digunakan untuk membuat ogoh-ogoh sekitar 10% dari seluruh biaya ogoh-ogoh.

Setelah semuanya siap, ogoh-ogoh akan diarak keliling desa pada sore hari saat pengerupukan, yaitu sehari sebelum Nyepi. Acara ini berlangsung sangat ramai, jalan-jalan utama dipenuhi ogoh-ogoh yang diarak oleh para pemuda. Di beberapa tempat, ada juga yang dilombakan. Ogoh-ogoh ini diarak diiringi dengan gamelan baleganjur dan kreasi-kreasi seperti tari-tarian dan lainnya.

Lelah lagi..

Lelah, itulah mungkin kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisiku saat ini. Walaupun mungkin terdengar sedikit mengeluh, tapi memang itulah keadaanku yang sebenarnya, aku kini merasa bernafas dalam lumpur. Hari-hariku sebulan belakangan ini benar-benar sibuk, jadwalku padat sekali, seperti jadwal presiden yang bahkan waktu untuk tidur pun rasanya sangat kurang.
Senin sampai jumat aku bekerja seperti biasa, dimana pekerjaan di kantor sekarang jauh lebih padat dari sebelum-sebelumnya. Walaupun tidak sepadat rekan-rekan kerja yang lain, tapi bagiku ini sudah sangat padat, mungkin karena aku awalnya lebih santai, jadi sekarang merasa seperti ini. Mulai dari mempersiapkan materi mengajar, kemudian mengajar, membantu pembuatan jurnal kampus, menyusun KTSP untuk SMK, belum lagi kegiatan-kegiatan “dadakan” lainnya.

Sepulang bekerja, pekerjaan lain sudah menunggu di rumah, yang paling membuatku tidak bisa “bernafas” adalah karena aku sebagai ketua pemuda di banjar. Memang bagi yang tidak pernah merasakan, terlihat gampang dan enteng. Tetapi sebenarnya diperlukan kesabaran yang super tinggi, karena kalau tidak begitu, bisa saja aku sudah emosi menghadapi anggota yang tidak “berwawasan”. Apalagi saat ini mendekati perayaan hari raya Nyepi, yang mana saat ini panitia Nyepi sedang sibuk mempersiapkan acara pengerupukan, membuat ogoh-ogoh, mencari sumbangan dari rumah ke rumah, dan aku terlibat didalamnya. Bagi teman-teman yang tidak mengerti, aku memang tidak terlihat membantu pembuatan ogoh-ogoh secara fisik, tapi mereka tidak tahu siapa yang bekerja di belakang layar, terutama untuk urusan uang (baca : mencari donatur). Kadang mereka hanya bisa protes tanpa memberikan suatu solusi.

Beberapa hari lagi puncak acara pengerupukan, mudah-mudahan setelah itu aku bisa sedikit bernafas. Karena memang susah sekali rasanya membagi waktu, aku merasa kekurangan waktu untuk memperhatikan diri sendiri, aku jadi agak jarang memanjakan diri sendiri dan melakukan kepentingan pribadi seperti main volly, merawat kebun, bersih-bersih kamar, dll. Sampai-sampai sekarang dua kali seminggu aku ke laundry, karena aku ga punya waktu untuk nyuci pakaian. Dan satu hal lagi, sang pujaan hati pun sering marah-marah karena aku susah membagi waktu. Belum lagi perkuliahan di Stikom akan dimulai, mau ga mau aku ikut nimbrung cari sesuap nasi disana.

Ah… ingin sekali rasanya lebih santai. “Hidup santai umur panjang”

Posted by : Pak Ketua

Nyepi

Nyepi atau hari raya Nyepi merupakan salah satu hari raya dalam agama Hindu. Nyepi adalah hari pergantian tahun Saka (Isakawarsa) yang merupakan tahun dalam agama Hindu. Hari raya Nyepi merupakan hari raya yang diperingati berdasarkan sasih, yaitu setiap sehari sesudah Tilem Kesanga, dimana Tilem Kesanga merupakan malam yang paling gelap dalam kurun waktu setahun.

Perayaan hari raya nyepi ada beberapa tahapan yaitu : Melasti, Tawur, Nyepi, Ngembak Geni.

Melasti

Melasti merupakan kegiatan yang dilaksanakan sekitar 2 hari sebelum hari raya Nyepi. Melasti berarti “nganyudang malaning gumi ngamit Tirta Amertha” yaitu menghanyutkan segala kekotoran dalam kehidupan dan mengambil Tirta Amertha dari laut yang dianggap sebagai sumber Tirta Amertha (Pemuteran Mandargiri). Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan membawa (ngiring) pratima atau pralingga dari pura masing-masing menuju laut atau danau dengan diringi gamelan dan upacara-upacara lainnya. Melasti biasanya dilaksanakan mulai pagi hari dengan berjalan kaki dan membawa perlengkapan upacara serta Pratima atau Pralingga dengan Jempana. Iring-iringan umat ini akan memenuhi jalan-jalan utama yang ada di Bali dan menuju pantai masing-masing. Misalnya untuk umat yang berada di daerah Badung akan menuju pantai Petitenget. Umat yang ada di daerah Denpasar akan menuju pantai Sanur atau pantai Kuta. Pakaian khas berwarna dominan putih akan terlihat begitu banyak dipakai oleh umat yang melaksanakan upacara melasti. Sesampai di pantai, upacara akan dilaksanakan di pinggir pantai dipimpin oleh pemangku untuk mengambil Tirta Amertha, kemudian umat akan menghaturkan sembah ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai bentuk wujud syukur kepada-Nya. Kemudian umat akan beristirahat sejenak sambil menikmati makanan yang dibawa dari rumah ataupun membeli makanan yang dijual disana. Dan kemudian dilanjutkan dengan ngiring Pratima atau Pralingga kembali ke Pura masing-masing. Upacara ini biasanya berakhir sore hari.

Tawur

Upacara ini merupakan upacara Butha Yadnya yang dilakukan sehari menjelang Nyepi atau tepat pada Tilem Kesanga. Upacara ini biasa dilakukan pada sandikala (pagi hari atau siang hari atau sore hari). Upacara ini diawali dengan melakukan tawur atau mecaru di tempat-tempat seperti perempatan, pertigaan yang bertujuan untuk “nyomyang” Butha Kala agar Butha Kala somya menjadi Dewa, karena dalam Hindu dikenal istilah Dewa Ya Bhuta Ya yang bermakna bahwa Butha Kala (jahat) akan berubah (somya) menjadi Dewa setelah kita perlakukan dengan baik (diberi caru). Kegiatan ini biasanya dilanjutkan dengan Ngerupuk yaitu mengarak ogoh-ogoh yang dipersiapkan sebulan sebelum Pengerupukan. Kegiatan ini biasanya diikuti oleh generasi muda dengan pengawasan masyarakat. Pembuatan ogoh-ogoh ini juga menjadi ajang menumpahkan kreatifitas generasi muda.

Nyepi

Ini merupakan puncak pelaksanaan hari raya dan mungkin yang paling sulit dilaksanakan karena terdapat beberapa pantangan yang harus diikuti. Setelah selesai Pengerupukan, keesokan hari sebelum matahari terbit dimulai. Perayaan nyepi ini dilaksanakan selama satu hari (24 jam). Adapun beberapa pantangan atau hal-hal yang tidak boleh dilakukan yang dikenal dengan Catur Brata Penyepian yaitu :

  1. Amati Geni : Tidak menyalakan api (cahaya).
  2. Amati Karya : Tidak melakukan pekerjaan.
  3. Amati Lelungan : Tidak bepergian.
  4. Amati Lelanguan : Tidak berfoya-foya / tidak melampiaskan indrya.

Ketika empat pantangan ini dilaksanakan, keadaan akan sepi / sunyi senyap. Tidak ada kegiatan sama sekali, dunia seperti tidak ada kehidupan menusia. Di Bali semua tempat sangat sepi, semua pintu masuk menuju Bali seperti Bandara, Pelabuhan, dll ditutup untuk melaksanakan Nyepi, tidak ada kendaraan yang melintas, semua masyarakat berdiam diri di rumah masing-masing. Nyepi sebaiknya digunakan untuk melakukan Tapa Brata, atau merenungkan dan mengevaluasi kegiatan yang telah kita lakukan selama setahun. Dan apa yang sebaiknya kita lakukan setahun kemudian.

Ngembak Geni
Ngembak Geni dilaksanakan keesokan hari setelah Nyepi. Hari ini digunakan untuk melaksanakan Dharma Santhi baik di lingkungan keluarga atau masyarakat. Hari ini juga digunakan untuk saling mengunjungi sanak keluarga untuk saling bermaaf-maafan. Tahun baru Saka dimulai dengan hati yang bersih baik jasmani dan rohani serta lingkungan, jadi baik Bhuana Alit maupun Bhuana Agung terdapat keseimbangan.

Demikianlah rangkaian hari raya Nyepi dilaksanakan setiap tahun.

Puji Syukur

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas karunia beliau kami akhirnya bisa mewujudkan blog ini. Blog ini dibuat untuk memperluas wawasan kami dan seluruh anggota khususnya di bidang IT. Agar kami dan seluruh anggota tidak ketinggalan informasi di jaman yang serba modern ini.

Dengan terbentuknya pengurus baru ST Dwi Tura periode 2006-2008, tanpa mengesampingkan jasa-jasa pengurus sebelumnya, kami berusaha menjadi lebih baik dari senior-senior kami. Dengan selalu memohon pentunjuk kepada para senior serta penglingsir banjar Anyar Kaja sebagai penasehat dan pengawas, kami berusaha menjalankan organisasi ini dengan penuh semangat kebersamaan.

Blog sebenarnnya ini kami rencanakan untuk dibuat begitu pengurus disahkan oleh Bapak Kelian Adat Banjar Anyar Kaja, namun karena kesibukan kami di kepengurusan maka pembuatan blog ini agak mundur. Semoga saja apa yang telah kami lakukan dan yang kami rencanakan mendapat dukungan dari teman-teman anggota, dan dengan karunia Ida Sang Hyang Widhi semoga Dwi Tura bisa menjadi semakin dewasa dan semakin maju serta kompak di dalam berorganisasi.

Astungkara…


Foto Dwi Tura

Ogoh-ogoh Caka 1929 - 05

Ogoh-ogoh Caka 1929 - 04

Ogoh-ogoh Caka 1929 - 05

Ogoh-ogoh Caka 1929 - 04

Ogoh-ogoh Caka 1929 - 03

Ogoh-ogoh Caka 1929 - 02

Ogoh-ogoh Caka 1929 - 01

Ogoh-ogoh Caka 1927 - 02

Ogoh-ogoh Caka 1927 - 01

More Photos

Komentar Terakhir

purwax on Ogoh-ogoh menjelang Nyepi
hery jerami on Ogoh-ogoh menjelang Nyepi
carina on Susunan Pengurus
carina on Susunan Pengurus
carina on Puji Syukur
carina on Puji Syukur
carina on Puji Syukur
carina on Puji Syukur
carina on Puji Syukur
SIge on Siapa Kami

Posting Terbaik

  • None

Arsip

Halaman Dwi Tura

Kalender

March 2007
M T W T F S S
     
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Statistik

  • 3,285 pengunjung

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.